12/11/13

Hukum Waris Adat | sm3 TS Bp. Sulastriyono



PETA PLURALISME HUKUM WARIS DI INDONESIA
1. HUKUM WARIS  BARAT/ KUH PERDATA  BERLAKU BAGI GOL. EROPA DAN TIMUR ASING
2. HUKUM WARIS ISLAM BERLAKU BAGI ORANG ISLAM (LINGKUNGAN  PONDOK)
3. HUKUM WARIS ADAT BERLAKU BAGI ORANG INDONESIA PADA UMUMNYA BAIK YANG   
    BERAGAMA ISLAM MAUPUN  BUKAN ISLAM

PENGERTIAN HUKUM WARIS ADAT
1. TER HAAR : 
     ATURAN-ATURAN HUKUM YANG BERTALIAN DENGAN   PENERUSAN DAN PERALIHAN HARTA KEKAYAAN YANG  BERWUJUD DAN TIDAK BERWUJUD DARI GENERASI KE  GENERASI

2. SUPOMO :
    ATURAN-ATURAN YANG MENGATUR TENTANG PROSES  MENERUSKAN DAN ATAU MENGOPERKAN BARANG BERWUJUD   DAN TIDAK BERWUJUD DARI SUATU ANGKATAN MANUSIA     KEPADA TURUNANNYA.

3. RANGKUMAN
    HUKUM WARIS ADAT ADALAH NORMA/ ATURAN TENTANG PROSES PENGALIHAN ATAU PENERUSAN  HARTA  BENDA KELUARGA  BAIK YANG BERUJUD MAUPUN YANG TIDAK BERUJUD DARI SESEORANG KEPADA ANAK KETURUNANNYA.

HUBUNGAN HK WARIS DENGAN HK YANG LAIN
  1. Hak ulayat .
  2. Transaksi2 àjual gadai, jual tahunan dll. dilanjutkan ahli waris.
  3. Hak & kewajiban yg timbul karena perbuatan  kredit tetap berkekuatan hukum.
  4. Sistem kekerabatan
  5. SISTEM DAN BENTUK  perkawinan.
  6. Perbuatan hukum tertentu (mis. pengangkatan anak, kawin ambil anak, pemberian bekal  
      kpd anak yg kawin).

Bentuk perkawinan (berkaitan dgn sistem pewarisan)
Minang: Kawin semendo
                1. suami urang semendo bertandang /
                2.     “          “           “         menetap;
                      à extended / nuclear family
Bali:     1. Kawin keluar. 2. kawin nyeburin
Gayo:   1. Kawin juelen. 2. Kawin angkap nasab / sementara. 3. kawin kuso kini
Rejang:  1. Kawin jujur. 2. Kawin semendo ambil anak. 3. Kawin semendo rajo-rajo (Rejang)

TEORI-TEORI
Teori Penetration Pasifique, Tolerant et  Constructive
<>De Josselin de Jong: Islam telah  ma-suk ke Indonesia secara damai, toleran, dan konstruktif serta mengakar dlm ke-sadaran rakyat Indonesia sehingga membawa pengaruh yang bersifat nor-mative dlm kebudayaannya

Teori Sinkretisme
<>M.B. Hooker : sifat akomodatif Islam -hubungan yg erat antara nilai2 Islam dgn Hk. Adat, sikap rukun, saling memberi dan menerima dlm bentuk tatanan baru (sinkretisme).
    Antara system Hukum Islam dan Hukum Adat tidak saling menyisihkan. Keduanya berlaku,  memiliki daya ikat yang sederajat  à membentuk suatu pola khas dlm kesadaran masyarakat.
SINKRETISME
1. Asas perdamaian dlm hk waris   (Qur’an S. II:182, QS. IV: 4 & Kompilasi Hukum Islam [KHI] Ps. 193)
2. Penggantian waris (KHI Ps 185)
3. Wasiat wajibah (KHI Ps.209)
4. Ps.211: Hibah orang tua kpd anaknya dpt diperhitungkan sbgai warisan

Anak sah:
¨       Hk Adat àkawin “paksa”, kawin pattong-kok sirik  / tambelan, juga anak sah
¨       UUP. Ps.42: Anak sah adalah anak yg dilahirkan dalam  atau sebagai akibat perkawinan yg sah
¨       Hk. Islam: anak yg lahir 6 bulan setelah perkawinan orang tuanya

  à Tapi KHI Ps 99 = UUP Ps 42  !!
BW:   à 180 hari

Penyelesaian konflik HA & H,Islam  di Minang
        1. Harta pusaka tinggi dibagi menurut Hukum Waris Adat
        2. Harta pencaharian / suarang dibagi menurut Hukum Waris Islam
     (Pertemuan “Orang Empat Jenis” [Kelom-pok adat,   agama,   cerdik  pandai      dan generasi    
      muda] tahun 1952 di Bukittinggi, dan Seminar Adat Minangkabau tahun 1968 di Padang)

DASAR MEWARIS
¨       Hk. Adat:
  Hubungan darah (patrilineal, matri-lineal, parental)
¨       Hk Islam:
   Hub. Darah & Perkawinan (Q.S. IV: 7, 11, 12, 176)
¨       BW:
Hub. Darah & perkawinan (Ps. 852, setelah ada S. 1835-482.)

HUKUM ROMAWI
¨       Anak dewasa, walau laki2 tetap di bawah kekuasaan orang tua (ayah),  kecuali dimerdekan oleh ayah
¨       Anak wanita diperbudak ayah. Setelah kawin diperbudak suami
¨       Janda bukan ahli waris

àBW  Ps. 108,  110 dll: wanita bersuami tidak cakap melakukan perbuatan hukum. Sebelum ada S.1935-486: janda bukan ahli waris   jika  suami punya keluarga sedarah dlm derajad ke 12.     à SEMA  NO. 3/1960




Unsur2  pewarisan:
  1. Pewaris
  2. Harta warisan
  3. Ahli waris
Ad 1. Pewaris:
(1)Orang yg mengoperkan warisan
(2)orang yg meninggalkan warisan
Hk Islam & BW hanya mengenal Ad. 1(2)
 KHI (INPRES no. 1 /1991) Ps.   àHA

Ad 2. HARTA WARISAN
TIDAK MERUPAKAN KESATUAN YANG DAPAT DINILAI HARGANYA,TETAPI MERU-PAKAN KESATUAN YANG TIDAK TERBAGI ATAU  DAPAT TERBAGI [MATERIIL / IMMA-TERIIL]   MENURUT JENIS MACAMNYA DAN KEPENTINGAN PARA WARIS.
SISTEM HUKUM BARAT DAN HUKUM ISLAM DIHITUNG SEBAGAI KESATUAN YANG DAPAT DINILAI DENGAN UANG.
HA: 1) yang diwaris: aktiva
       2) ahli waris tdk boleh menolak  warisan

BW: 1) yang diwaris: aktiva dan  passiva
        2) ahli waris dpt menolak warisan  (Ps.1057)
        àPs. 1058: dianggap tak pernah  terjadi warisan

SISTEM PEWARISAN

SISTEM KETURUNAN:
  1. MATRILINEAL (MINANG, TIMOR ENGGANO).
  2. PATRILINEAL (ALAS, GAYO,BATAK, NIAS, LAMPUNG, BALI, NTB, SERAM, BURU, PAPUA)
  3. PARENTAL (ACEH, SUM. TIMUR, RIAU. JAWA, MADURA, KALIMAN-TAN, SULAWESI, TERNATE)

SISTEM PEWARISAN

o    SISTEM INDIVIDUAL
SETIAP AHLI WARIS MENDAPATKAN ATAU MEMILIKI HARTA WARISAN MENURUT BAGIANNYA MASING-MASING         àBW Ps.1066

o    SISTEM KOLEKTIF
AHLI WARIS MENERIMA SEBAGAI SATU KESATUAN YANG TIDAK TERBAGI DAN HANYA TERDAPAT HAK UNTUK MENGGUNAKAN ATAU MENIKMATI HASIL

o    SISTEM MAYORAT 
HARTA WARISAN DIALIHKAN SEBAGAI KESATUAN YANG TIDAK TERBAGI DENGAN HAK PENGUASAAN YANG DILIMPAHKAN KEPADA ANAK TERTENTU SAJA, MIS: ANAK LAKI2 TERTUA (BALI, LAMPUNG), PEREMPUAN TERTUA (SEMENDO/SUMSEL), ANAK LAKI2 TERMUDA (BATAK).


PEWARISAN KOLEKTIF:
 Minang:   harta pusaka tinggi
Fungsi: penunjang tegaknya sistem matrilineal
¨       ganggam bauntuik
¨       masuk tdk menggenap, keluar tidak  mengganjil
  Kebutuhan mendesak:
       Rumah gadang ketirisan
       Gadis besar belum bersuami
       Mayat terbujur di tengah rumah
       Pembangkit batang terendam
Yurisprudensi HA Minangkabau
RvJ Padang, 1-12-1927: kemenakan ahli waris harta mamak.
PN Bukittinggi, 24-3-1966: harta pusaka kaum kembali kpd kaum
Yurisprudensi HA Minangkabau:
MA, 12-2-1969: harta pencarian diwaris janda dan anak
PN Bukittinggi, (Perd. No.7/1973): Harta pencarian dibagi menurut alur dan patut (pria : wanita / anak à1:1 )
Yurisprudensi HA Minangkabau:
PA Padang Panjang, 3-5-1973:
     Harta pencaria dibagi: isteri 1/8, anak laki2 : anak prmpuan = 2:1, dan Sdr atas kesepakatan.
PA Padang  Panjang, 30-7-1973:
      Harta pencarian dibagi: anak pr., isteri2, sdr pr. berds. kesepa-katan

PEWARISAN MAYORAT:
Bali: tanah karang desa &
            tanah ayahan desa
SEMENDO (SUM-SEL): Harta kerabat , diwaris anak wanita tertua   (TUNGGU TUBANG)

Proses Pewarisan
  1. Pewaris masih hidup (pengoperan):
       a. Pengalihan (lintiran; marisake / Jawa; papassang / Sul-Sel)
       b. Penunjukan (cungan, garisan / Jaw; ngejengken / Lampung)
       c. wasiat (pesan. Weling, wekas / Jawa; umanat / Minang;  peuneusan / Aceh,  
            ngeudeskan / Tapanuli)

        2. Pewaris meninggal (penerusan):
    a. Penguasaan janda
    b. Penguasaan anak
    c. Penguasaan anggota keluarga

Pengalihan: pemilikan harta dialihkan kepada ahli waris       àKHI Ps. 211
Penunjukan: Ahli waris boleh mengu-asai harta, tapi hak milik harta masih di tangan pewaris
Wasiat:    Pewaris menentukan bagian terten-tu dari hartanya utk ahli waris, tapi pelaksanaan setelah pewaris wafat

H I B A H
Hibah (dan wasiat) punya 2 corak:
1.a. Yg menerima: waris àmrpkan perpindahan harta di kalangan waris
   b. Orang tua: terikat aturan àsemua anak / waris dpt bagian layak
2. Mengadakan koreksi terhadap hk waris ab intestato (HK Adat / Agama) yg tdk memuaskan pewaris.
     (pemberian pauseang, saba bangunan, indahan arian kpd anak perempuan / Batak, dusun lelepeello /Ambon, hibah kpd anak angkat)

MA, 23-8-1960:
  1. Hibah tdk memerlukan persetujuan ahli waris,
  2. Hibah tdk mengakibatkan ahli waris kehi-langan hak sebagai ahli waris dari si penghibah

Fungsi harta keluarga:  untk dasar materiil penghidupan keluarga, maka semua dilhat dari situ, untuk memindahkan hak dpt dibatalkan, tapi untuk kepastian hukum: pertimbangan unsur kepatutan (Soepomo).
Ptsn Kamar III RvJ Jakarta, 31-3-1939: hibah dicabut karena lasan2 adat: kurang hormat atau tabiat lain yg membuktikan kelalaian anak terhadap orang tua (dianggap memutuskan hub. Keluarga, bukan waris lagi: layak tidak medpt warisan)
Landraad Malang, 12-2-1938: anak angkat yg sangat tdk memenuhi penghormatan dan pertolongan kpd orang tua angkat dianggap memutuskan pertalian keluarga dg orang tua angkat.


HILANGNYA HAK MEWARIS
Ahli waris bisa kehilangan hak mewaris jika melakukan:
  1. Membunuh / mencoba membunuh pewaris
  2. Penganiayaan / merugikan kehidupan pewaris
  3. Menjatuhkan nama baik pewaris dan kerabatnya

KOMPILASI HUKUM ISLAM
Ps. 173:  Seorang terhalang menjadai ahli waris:
   (a) dipersalahkan tlh membunuh / mencoba membunuh / menganiaya berat kpd pewaris.
   (b) dipersalahkan sec. menfitnah tlh menga-jukan pengaduan bhw pewaris tlh melakukan suatu  
         kejahatan yg diancam dg hukuman 5 tahun / lebih berat  (setelah ada putusan Pengadilan
          yang mempunyai kekuatan hukum yg tetap)
MA, 7-3-1959:
   Seorang ayah telah membagi harta gawan kepada beberapa orang anaknya, anak yang lain belum memperoleh, untuk menghormati kebebasan pemilik barang, maka anak yg kurang disayang dapat separo anak yang disayang.
MA, 19-5-1981:
  Hibah dari suami (tanpa anak) kpd isteri atas barang asal tdk dapat disahkan, karena ahli waris suami tersebut menjadi kehilangan hak warisnya.
Macam-Macam  Ahli Waris  4
1. Anak kandung
                 Anak sah adalah yang lahir dalam  perkawinan yang sah
            Patrilineal: Anak Laki2 adalah ahli waris ayah dan kerabat ayah
            Matrilineal: Anak2 adalah ahli waris Ibu dan mamak (Saudara laki2 Ibu) serta kerabat ibu
            Bilateral / Parental: Anak2 adalah ahli waris kedua orang tuanya dan kerabat ayah ibunya.
2. Anak Tiri
                Bukan ahli waris ayah / ibu tirinya, tapi ahli waris ayah / ibu kandungnya
             Anak tiri dapat diangkat anak (Di Rejang: mulang jurai, Dayak Maanyan-Siung: ngukup anak)
3. Anak Angkat: punya kedudukan sbg ahli waris orang tua angkat dgn variasi
¨       MA, 18-3-1959: Di Jawa Tengah  anak angkat mewaris gana gini, ia tdk berhak atas harta asal orang tua angkat.
¨       PN Purworejo, 6-10-1937: anak angkat juga mewaris harta orang tua kandung.
àTapi jika tidak ada gana gini, anak angkat dpt  mewaris sebagian harta asal, bersama dgn ahli
     waris almarhum orang tua angkat.
 (asas parimirma / sifat plastis Hk Adat)
Hukum à refleksi pandangan hidup masy. /   bangsa
Hukum Adat:   religies
 Syarat pengangangkatan anak di Bali:
  a. pemerasan (Widi Wedana)
  b. penyiaran di Banjar(MA,12-1-1977)
Di Bali, yg berhak sebagai ahli waris: anak laki2 dan anak angkat laki2 (MA, 18-12-1958).

Gol. Tiongoa (S.1917-129):
¨       Suami isteri, duda, janda yg tdk punya anak laki2 dpt mengangkat anak laki2 (Ps.5)
¨       Mengangkat anak perempuan batal demi hukum
¨       Harus dengan akta notaris.
<>Saat terjadinya pengangkatan anak / adopsi:
    S. 1917-127   &  PP No. 54 tahun 2007?
<> PN Jakarta, 17-10-1963:
    Mengabulkan pengangkatan anak wanita oleh WNI  keturunan Tionghoa.
4. Anak luar kawin: ahli waris ibunya
  Hukum àrefeksi cara berpikir masy. / bangsa
Hukum Adat  (masyarakat Indonesia): belevend,  participeerend, concreet denken
¨       anak luar kawin: beribu yang melahirkannya (tidak perlu pengakuan formal. àberdasar faktalahir dari seorang ibu yang tidak punya suami
¨       di Minahasa: anak luar kawin dapat berayah yuridis ( jika ayah biologis mengakui dg: lilikur).
     
H.J.Berman:
  “It is often said that American law, like English law, is highly emperical in its method, that is proceeds from case to case and from problem to problem, seeking practical solution without reference to a systematic set of doctrines or a comprihensive theory”
Hk Adat: belevend participeerend, concfeet denken
Hk Belanda: analiseernd, abstrack denken
Hukum  àrefleksi cara berfikir masy, / bangsa    
Masy. Belanda: umum, abstrak, formal, hipotetis
<>Anal luar kawin (natuurlijk / erkent kind). BW:
Ps. 863:  Anak zina & sumbang dilarang diakui
Ps. 867:         ”                      ”      dapat nafkah
Ps. 269:         ”         &           ”    dilarang menyelidiki siapa orang tuanya  (sehingga ia tetap tdk beribu dan tdk berayah; Ps. 867 tdk dpat dimanfaatkan)

YURISP. HAK WARIS JANDA
¨       Lanraad Purworejo, 28-8-1937: Harta asal kembali ke sdr almarhum suami karena tdk ada anak, harta gana gini jatuh pd janda & anak angkat
¨       Raad van Justitie, 26-5-1939: Janda tdk dianggap ahli waris, tp berhak penghasilan atas harta peninggalan suami jika gana gini tdk cukup.
¨       MA, 29-10-1958: Tdk melahir-kan anak, janda tetap mengu-asai gana gini sampai mening-gal / kawin lagi
<> MA, No.385K/Sip/1958: Pembagian gana gini tdk dpt dituntut selain dp isteri & anak
¨       MA, 7-3-1959: Janda mendapat separo gana gini (yurisprudensi tetap)
¨       MA, 12-11-1950:
   (1)sekurang2nya  sbgian harta asal suami hrs tetap ditangan janda untuk kehidupan-nya sp meninggal / lawin lagi;
   (2)jika harta bawaan banyak dpt mewarias sebesar anak kandung      àBW Ps.852a
¨       MA, 14-6-1968: Janda mendpt ½ harta pen-carian, sisanya dibagi msg2 1/3 antra janda, serang anak lski2 dan seorang anak wanita
    (di Kabanjahe, Sum. Timur)
¨       MA, No.1476 K/Sip/1982: Isteri ingkar / lari, tetap dpt bagian gana gini
Putusan MA, 28-4-1987:
¨       Janda adalah ahli waris suami
¨       Hak dan kddkan janda sejajar dgn anak2
¨       Dgn dmkian janda mrpkan ahli waris klompok keutamaan bersama anak2
¨       Apabila tdk ada anak, janda menutup keahliwarisan klompok saudara suami, dan dlm kasus yg seperti ini janda mewarisi semua harta peninggalan suami meliputi harta gono gini dan harta gawan (harta asal)
¨       MA, No.3293/Pdt/1986: Janda berhak  menguasai / menikmati gana gini untk menjamin hidupnya sampai ia mening-gal / kawin lagi, adapun harta gawan diwaris anak kandung
¨       MA, 4-6-1998:
     <> harta isteri (gini), sepenuhnya hak
          isteri
    <> harta asal (gana) almarhum suami
         diwaris oleh janda dan sdr2 kan-
         dung suami (5 orang), dibagi sama,
         shngga masing2 1/6  (di Cilacap)
          MA, 10-9-1958: Bila suami kawin lebih dari seorang, ada lebih dari satu gana gini, maka gana gini itu dipisahkan
          MA, 12-9-1990; Dalam hal terbentuknya gana gini yg terpisah dlm perkw. I dan II, anak2 dari masing2 perkw. berhak atas gana gini orang tuanya masing-masing.
MA No. 741 K?Pdt?1985: penggugat sbgai isteri II tdk berhak atas gana gini suaminya dgn isteri I, karena harta itu adalah hak isteri I dan anak-anaknya
Yurisprdensi HA Bali
  1. PT Denpasar, 15-5-1969: barang2 yg diperoleh sec.perorangan sblum dan selama perkawinan ssdh 3 tahun menjadi druwe gabro.
  2. MA, 14-3-1973: Barang yg didapat selama perkw. yg disebut barang guna kaya (druwe gabro) dibagi 2 sama rata, jk terjadi perceraian
  3. MA, 31-5-1983:  janda berhak menikmati harta peninggalan suami bersama ahli waris lainnya selama menjalankan dharmanya sebagai janda.
  4. 4. Janda berhak atas harta guna kaya 2:1 (serempat sesuhun), 2 bgn untk ahli waris, 1 bgian untk janda
  5. PT Denpasar, 22-7-1972: Anak pr. berstatus sbagai anak laki2, jika dijadikan sentana rajeg / di kawin keseburin.
  6. 6. MA, 18 -12-1958: Di Bali yg berhak sbgai ahli waris: keturunan laki2 pihak keluarga  dan anak angkat laki2.

Hk  Adat  Batak:
¨       MA, 25-10-1958: Semua harta yg timbul adalah milik suami, tp isteri berhak memakai seumur hidup selama diperlukan untuk penghidupannya.
¨       MA, 17-1-1959: Menurut Hukum Adat  di daerah Tapanuli pada perjalanan jaman pada waktu sekarang:
     1. Isteri dapat mewarisi harta pencarian dari suami yg meninggal.
     2. Anak yg blm dewasa dipelihara dan berada dibawah pengampuan ibu.
     3. Karena anak berada dlm pengampuan ibu, maka harta kekayaan  anak dikuasaai diurus ibu
¨       MA, 14-6-1968:
   Mengingat pertumbuhan masyarakat dewasa ini menuju kearah persamaan kddkan antara pria dan wanita dan pengakuan janda sebgai ahli waris, MA membenarkan pertimbangan dan Putusan PT yg menetapkan bhwa dlm hal meninggalnya seorang suami dg meninggalkan seorang janda, seorang anak laki2 dan seorang anak perempuan, janda berhak separo atas harta bersama,sedang sisanya dibagi antara janda dan kedua anaknya, masing2 mendapat sepertiga bagian.(di daerah Kabanjahe, Sumatera Timur)

KELOMPOK KEUTAMAAN AHLI WARIS
  1. Anak / keturunan pewaris
  2. Orang tua pewaris
  3. Saudara pewaris / keturunannya
  4. Orang tua dari orang tua pewaris
  5. Paman / bibi pewaris / keturunanya
àsesuai dengan masy. parental, patrilineal , matrilineal
PERADILAN WARISAN
  1. Musyawarah keluarga
  2. Musyawarah adat
  3. Pengadilan
   àpenyelesaian dlm musyawah keluarga / adat dgn cara win win solution, sehingga memuaskan semua pihak. Tetapi bila konflik tdk dapat diselesaikan di lembaga tersebut, lalu diajukan ke Pengadilan. Dlm hal ini hakim hrs sangat hati2. Kata Hilman Hadikusuma: di Lampung yg pewarisannya mayorat, jk halim memu-tus hak anak pria & wanita sama, akan menimbulkan dampak pecahnya kerukunan hidup masyarakat pe-padun dan sengketa warisan akan bertambah hebat


Ter Haar:
Mengadili menurut Hukum Adat:
   àbahan pokok: sisten hukum, fakta  sosial   dan   syarat2    kemanusiaan,   kesemuanya dg cara yg dapat dipertanggungjawabkan pada waktu  sekarang.
Sec. subyektif :  dlm membentuk hukum àkeinsyafan keadilan rakyat     dan    keinsyafan hukum hakim saling pengaruh-mempengaruhi.

 Prof. MM Djojodigoeno:
    Hakim harus menjumbuhkan pengadilan dan keadilan
<> Kepala putusan Pengadilan harus ditulis:
    “Demi keadilan berdasarkan Ketuhanan YME
Hukum Barat:
<>Pepatah Yunani: bukan hukum tanpa keadilan
<>Legisme (Abad XIX): hukum = uu (bebas nilai)
<>Para pemikir abad XX: ada suatu hubungan antara hukum positif dgn pribadi manusia, yg berpegang pd norma2 keadilan (filsafat neoskolastik, neokantianisme, neohegelianisme, eksistensialisme)

Musywarah dan mufakat
    Hukum Adat mementingkan musyawarah dan mufakat dlm pembentukan / hubungan hukum (dlm keluarga/kerabat/masyarakat)  bahkan dlm penyelesaian sengketa
¨  Musyawarah dan mufakat merupakan  pedoman bagi pembentuk hukum:
      Kamanakan barajo kamamak
      Mamak barajo kapanghulu
      Panghulu barajo kamufakat
      Mufakat barajo pada alur dan patut
      KOMUN :
          Yang   buta    –pengembus lesung
          Yang  pekak   –pelepas bedil
          Yang lumpuh –penghuni rumah
          Yang   kuat     –pemikul beban
          Yang  bodoh  –disuruh-suruh
          Yang   pintar  –lawan berunding



ASAS HUKUM WARIS ADAT
  
¨       ASAS KETUHANAN DAN PENGEN DALIAN DIRI
¨       KESAMAAN HAK DAN KEBERSAMAAN HAK
¨       KERUKUNAN DAN KEKELUARGAAN
¨       MUSYAWARAH   DAN    MUFAKAT SERTA KEADILAN / PARIMIRMA

ASAS POKOK HUKUM ADAT
KERUKUNAN,
KESELARASAN
KEPATUTAN
dihubungkan dengan
DESA, KALA, PATRA

                             (Prof. M. Koesnoe)
    UU No. 4 / 2004:
    Ps.25 (1)Hakim mengadili  àsebut dasar hukum-nya : perundang2an / hk tak tertulis (Hk Adat)
     Ps. 28(1): Hakim wajib menggali, memahami dan mengi-kuti nilai2 hukum dan rasa kea-dilan yg hidup dlm masyarakat



 


  


Tidak ada komentar:

Posting Komentar